Langsung ke konten utama

Wawancara dengan Dr. Barizi: “Harus Keluar dari Mental Kampungan”*)

Ketika disinggung lebih baik mana ‘kuliah tepat waktu’ atau ‘kuliah tepat pada waktunya’ (mematangkan diri), Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang tersebut berpendapat bahwa itu adalah pilihan masing-masing mahasiswa, namun mahasiswa semestinya lulus tepat waktu dalam karir akademiknya. “Lebih cepat lebih baik dan yang terpenting adalah berkualitas,” ungkap dosen yang didaulat semaktu mahasiswa sebagai wisudawan terbaik se-IAIN Sunan Ampel ini, dari sekian cabang, antara lain Pamekasan, Malang, Tulung Agung, Ponorogo, Kediri, Mataram, Banjarmasin, dan lainnya.Pertanyaannya, bagaimana seseorang itu bisa berkualitas. Menurut peneliti dan penulis buku-buku pemikiran dan pendidikan ini, istilah Revolusi Mental yang diusung pak Jokowi bukan sesuatu yang baru sebenarnya. Perubahan sejatinya harus dimulai dari diri sendiri. Yang dirubah adalah mindset atau pola pikir. Mental yang tradisional harus ditinggalkan. Kita harus mengubah mental kampungan menjadi mental akademik. Bukan orang kampung dalam arti arial. Toh idealisme kadang dibangun oleh orang kampung. Kita juga orang kampung bukan? Mental kampungan berarti mental terbelakang dan termarjinalkan, dalam arti tidak memiliki progress untuk lebih baik di masa depan. Mental kampungan dalam artian mental rutinitas. "Rutinitas itu kan seperti hewan ternak. Ayam pasti bangunnya tepat waktu kan, habis itu makan, keluar kandang, dan lainnya. Mahasiswa semisal hanya kuliah, kos-kosan, perpus, ngerjakan tugas dan lain-lain, sebagaimana adanya saja. Lalu apa bedanya kita dengan ayam, bebek, sapi, dan lain-lain,” paparnya.  Oleh karena itu, menurut dosen yang menggawangi diskursus integrasi sains dan Islam di fakultas saintek ini sejatinya mahasiswa harus keluar dari mindset rutinitas. Itulah mental akademik, selalu keluar dari zona rutinitas. Jiwa akademik itu selalu berpikiran ke depan. Selalu membangun jati diri yang kuat. Untuk itu perlu membangun atmosfer akademik yang kondusif,” ungkapnya. Lalu bagaimana memunculkan atmosfer akademik? Menurutnya hal ini tidak lain adalah melalui organisasi. Media aktualisasi diri dalam kontes akademik. Organisasi merupakan rumah kedua dalam istilah para aktivis. Itu akan lahir bila sudah ada jiwa akademik.“Aktivitas mahasiswa itu memang harus ada harmoni gerakan akademik dan organisatorik. Mahasiswa sejatinya mempunyai tuntutan pribadi untuk bisa produktif, dalam arti terus berkarya dan berlomba-lomba menuju kemenangan intelektual. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, suatu keniscayaan,” ungkapnya.Ketika ditanya perihal kondisi mahasiswa kini yang tengah dihinggapi mental hedonis, pragmatis, oportunis, dan ahistoris, serta membandingkan dengan idealisme akademik mahasiswa generasi dulu, ia menuturkan bahwa tantangan era generasi kini berbeda dari sebelumnya. Menguasai sains dan teknologi itu penting. Baik natural sciens maupun social sciens. Generasi emas silam itu kan tidak pernah merasa puas. Akan selalu bergerak mencari jati dirinya. Tanpa terlena oleh tantangan yang menghambatnya. Ia menjadikan tantangan sebagai peluang. Dulu itu susah sekali cari komputer. Dulu mesin ketik saja masih antri kok,” tukasnya.
Akumulasi Tiga KekuatanMenurut Barizi, harus terakumulasi tiga kekuatan dalam diri mahasiswa. Itulah yang coba dikembangkannya di fakultas saintek. “Saya mencoba menyeimbangkan tiga kekuatan itu, antara lain Academic advantage; keunggulan akademik, mutlak dimiliki, Leadership; keunggulan kepemimpinan, dalam arti bagaimana mahasiswa mengelola hidup, dan Enterpreneurship.
Jangan hanya pinter karepe dewe, hanya untuk dirinya sendiri. IPK itu hanya sebagai alat, sebagai tanda saja. Orang punya SIM (surat ijin mengemudi, red) tapi tidak bisa berkendara kan bahaya. Ia tidak dapat bededikasi dan dengan baik. Ya itulah produk-produk ‘mahasiwa rutinitas’. Oleh karena itu kemampuan leadership murni diperlukan. Bukan hanya keterampilan manajemen, berbeda dengan leadership. Ia akan mampu mengelola diri dan lingkungannya, bahkan merekayasa agar kelompok yang diampunya dapat sedemikian rupa kompak dan solid, tertarik pada dirinya,” ungkapnya.Selain itu, lanjut Barizi, jiwa enterpreneur juga harus dimiliki mahasiswa. Jiwa ini tidak harus ditempuh dengan menjadi pengusaha. Jiwa enterpreneur mesti kita tempatkan dalam arti seluas-luasnya. Kemampuan berjejaring dan menjual gagasan antara lain merupakan kemampuan enterpreneur. “Yang jelas, apapun profesinya, bila ingin sukses dan memiliki karir yang melejit, seseorang harus memiliki kompetensi dan dedikasi yang luar biasa. Begitu pula dengan dosen dan mahasiswa,” pungkasnya (Fiqh/Habibi).


*) Rubrik Wawancara Ekslusif Majalah Suara Akademika UIN Maliki Malang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semua Orang Berbakat Menulis

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.... (QS. Al-Alaq (96): 1-5)” Ayat diatas menyiratkan bahwa membaca dan menulis adalah suatu fitrah manusia. Membaca dan menulis adalah perantara pengajaran Allah atas manusia. Media bagi kita dalam menggali dan menginventarisasi ilmu Allah yang luas tersebar di dunia. Ya, sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis ilmu Allah, maka habislah lautan itu sebelum ilmu Allah habis ditulis, meskipun lautan itu ditambahkan lagi (QS. Al-Kahfi (18): 109).  Semua orang memiliki hasrat untuk meluapkan apa yang ia rasakan dan alami dalam hidupnya. Tapi sering kali kebanyakan orang lupa akan media yang pas untuk menumpahkan perasaannya. Pengalaman yang ia alami sering pula menguap dan terlupakan begitu saja. Padaha...

320.000 Malapetaka Menyebabkan Kearifan Lokal

Bila di pemukiman Anda atau di tempat-tempat yang Anda kunjungi kemarin (9/1) telah terjadi malapetaka semisal kecelakaan, kebakaran, bencana alam. Atau mungkin Anda sendiri yang mengalaminya. Barang kali karena kemarin bertepatan dengan “Rebo Wekasan” . Konon pada hari Rabu terakhir di bulan Safar (dalam kalender Jawa) atau bulan Muharram (dalam kalender hijriyah), tersebar 320.000 bala’ (malapetaka) di muka bumi. Dalam menghadapi hari naas ini

Memakmurkan Serambi Masjid*)

Masjid mempunyai dua dimensi ruang yang keduanya memiliki makna filosofis yang sangat dalam bila dicermati dengan seksama. Seperti halnya yang disampaikan Prof. Dr. KH. Masdar Farid, Rois Syuro Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang memberikan ceramah di depan 3000 mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-Aly di