Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label berita

Wawancara dengan Dr. Barizi: “Harus Keluar dari Mental Kampungan”*)

Ketika disinggung lebih baik mana ‘kuliah tepat waktu’ atau ‘kuliah tepat pada waktunya’ (mematangkan diri), Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang tersebut berpendapat bahwa itu adalah pilihan masing-masing mahasiswa, namun mahasiswa semestinya lulus tepat waktu dalam k arir akademiknya . “Lebih cepat lebih baik dan yang terpenting adalah berkualitas,” ungkap dosen yang didaulat semaktu mahasiswa sebagai wisudawan terbaik se-IAIN Sunan Ampel ini , dari sekian cabang, antara lain Pamekasan, Malang, Tulung Agung, Ponorogo, Kediri, Mataram, Banjarmasin, dan lainnya. Pertanyaannya, b agaimana seseorang itu bisa berkualitas . Menurut peneliti dan penulis buku-buku pemikiran dan pendidikan ini, istilah Revolusi M ental yang diusung pak Jokowi bukan sesuatu yang baru sebenarnya. Perubahan sejatinya harus dimulai dari diri sendiri. Yang dirubah adalah mindset atau pola pikir. Mental yang tradisional harus ditinggalkan. K ita harus mengubah m...

Syarat Peneliti Pemula*)

Peneliti sebagai profesi prestisius menuntut kerja cermat dan ilmiah dalam mengartikulasikan realitas objektif maupun realitas subjektif melalui pergumulan dengan fenomena alam dan sosial. Demikian yang diungkapkan Angga Teguh Prasetyo, M.Pd., dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang dalam acara Sekolah Penelitian Pemula (SPP) Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Maliki Malang, Sabtu dan Ahad lalu (1-2/3) lalu. Sebagai r efleksi t eologis , pemateri lainnya, Anas Kholish, M.HI., dosen Fakultas Syariah UIN Maliki Malang memberikan pencerahan b agi para p eneliti pemula yang hadir kala itu. Bahwasannya b erpikir merupakan landasan terpenting dalam sebuah penelitian . T anpa berpikir eksistensi p eneliti tidak akan pernah ada dan diakui . Sesuai dengan filsafat cartesian, cogito ergo sum. Oleh karena itu, Tuhan sering mengisyaratkan kepada manusia untuk melakukan kegiatan penelitian dengan menggunakan simbol-simbol bahasa tertentu, seperti iqra,...

Mengoreksi Terorisme dan Jihad

Teror meletus di berbagai belahan dunia. Untuk menyikapinya, HMI komisariat Syariah Ekonomi UIN Maliki Malang menggelar bedah buku Ketika Nonmuslim Membaca Al-Quran: Pandangan Ricard Bonney tentang Jihad karya Irwan Masduqi, Rabu malam (11/9/2013). Ricard Booney memaparkan konsep jihad dan akar terorisme secara objektif dan simpatik pada dunia internasional. Menariknya, selain dari kalangan Barat, dia juga seorang pendeta, sehingga pendapatnya tak beraroma apologis (membaik-baikkan citra Islam). Dalam penelitian Booney, jihad telah melewati sejarah panjang. Jihad sebagai konsep yang kompleks tak berkembang secara linier. Terjadi ketidakajekan dan pergeseran paradigma. Muncul beragam corak penafsiran dari sejumlah kelompok terhadap ayat-ayat jihad. Era Nabi, berbagai perang semata-mata untuk mempertahankan diri dan melindungi hak kebebasan berkeyakinan. Ayat pedang (QS. At-Taubah: 5) --yang sering dijadikan sebagai legitimasi aksi kekerasan atas nama jihad...

Tantangan Terbesar Umat Islam Dunia Diemban Indonesia (*

                          Eksistensi negara Islam dalam percaturan kebijakan dunia sering dipertanyakan dan diragukan, bahkan cenderung diremehkan. Hal ini terlihat dari hegemoni dan monopoli keputusan oleh beberapa negara Barat dengan kepemilikan hak veto di PBB yang notabene cenderung merugikan pihak Islam yang bersengketa. Pergulatan kekuatan dunia di era kini setidaknya dapat di petakan menjadi empat blok. Di masing-masing blok mayoritasnya mencirikan ideologi dan keyakinan keagamaan yang berbeda. Ranah empat blok tersebut diantaranya: pertama, blok Barat. Blok ini mencakup negara-negara Eropa dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologinya yang mendominasi. Negara-negara   mayoritas penduduknya memeluk agama nasrani. Kedua, blok Asia Timur yang diawaki negara Cina dengan kedigdayaan dan monopoli perindustrian dunia. Termasuk negara-...

Tahanus di Rowo Bayu*)

Tuhan agaknya membuang cuilan surga di Banyuwangi. Terbukti dari beragamnya objek keindahan di tanah bekas Kerajaan Blambangan ini. Rowo Bayu adalah opsi destinasi layak dijajaki. Tempat bertahanus yang tepat dari segala ingar bingar. Secara administratif, Rowo Bayu ada di Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Saat menemui tetenger Puputan Bayu, Anda harus ekstra hati-hati. Sebab setelah monumen kenangan pertempuran besar rakyat Blambangan melawan kompeni, jalanan mulai rusak dan bergelombang. Selepas jalan tanjakan, akan menemui gerbang wana wisata Rowo Bayu, hutan lebat nan asri ini siap menyambut. Suasana hening menyeruak. Sesekali dijumpai beberapa patung berwajah garang seolah menggiring tamu ke ruang utama. Pertama kali tiba di area utama ini, saya langsung jatuh cinta. Telaga membentang elok dikelilingi pepohonan rindang. Angin semilir mengelus peluh yang mengucur. Damainya.

Mbah Google Bukan Segalanya*)

Banyak orang memenuhi kebutuhan informasinya hanya merasa cukup dengan Google. Bahkan, mereka hafal di luar kepala tetek bengek tentang Google. Tak heran muncul istilah mbah Google yang tahu segalanya. Semua fokus informasi dibebankan ke Google (Google oriented). Akhirnya pemenuhan informasi hanya berpangkutangan pada Google. Itu yang disampaikan

Memakmurkan Serambi Masjid*)

Masjid mempunyai dua dimensi ruang yang keduanya memiliki makna filosofis yang sangat dalam bila dicermati dengan seksama. Seperti halnya yang disampaikan Prof. Dr. KH. Masdar Farid, Rois Syuro Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang memberikan ceramah di depan 3000 mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-Aly di

320.000 Malapetaka Menyebabkan Kearifan Lokal

Bila di pemukiman Anda atau di tempat-tempat yang Anda kunjungi kemarin (9/1) telah terjadi malapetaka semisal kecelakaan, kebakaran, bencana alam. Atau mungkin Anda sendiri yang mengalaminya. Barang kali karena kemarin bertepatan dengan “Rebo Wekasan” . Konon pada hari Rabu terakhir di bulan Safar (dalam kalender Jawa) atau bulan Muharram (dalam kalender hijriyah), tersebar 320.000 bala’ (malapetaka) di muka bumi. Dalam menghadapi hari naas ini

Mahasiswa Membumikan Penelitian

Banyak kalangan akademisi yang menyayangkan akan adanya krisis budaya menulis dan penelitian mahasiswa di kebanyakan sivitas kampus di Indonesia. Kecenderungan budaya hedonis dan faktor kejumudan lainnya yang melingkupi kebanyakan mahasiswa, seolah mengikis tradisi keintelektualan ini. Hal ini diperparah dengan kurang berkualitasnya karya tulis ilmiah mahasiswa yang berimplikasi pada maraknya perjokian tugas akhir perkuliahan. Kondisi ini membuat profesionalitas ribuan cetakan sarjana yang akan bergumul dalam dinamika masyarakat banyak dipertanyakan. Di belahan UIN Maulana Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Di kala kebanyakan mahasiswa lain tengah menikmati liburan panjangnya,   terdapat sekelompok mahasiswa yang silih berganti mempresentasikan sorotan proyektor di dinding. Bakal peneliti-peneliti muda itu adalah angkatan ke-XIV Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Maliki Malang. Mereka tengah mengikuti “SEMPRUL” (Seminar Proposal) dalam ...