Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label artikel

Langkah Gontai Gerakan Pramuka*)

Lima puluh dua tahun silam (14 Agustus 1961), Gerakan Pramuka resmi diperkenalkan kepada khalayak. Semua organisasi kepanduan disatukan untuk merebak kungkungan kolonialisme, komunisme, fanatisme kedaerahan, dan politik praktis, serta mengisi pembangunan. Euforia dan antusiasme meledak. Gerakan Pramuka memperoleh tanggapan positif dari masayrakat luas. Dalam waktu relatif singkat, organisasi ini   berdiri dari kota sampai di desa. Pasca peristiwa G.30.S/PKI meledak, dalam sekejap terjadi suatu revolusi sosial dengan timbulnya orde baru yang menuntut pemurnian Undang-Undang Dasar 1945 (1 Oktober 1965). Gerakan Pramuka juga tidak ketinggalan untuk menyesuaikan diri dan menyerasikan pelaksanaan tugas pokoknya dengan perkembangan masyarkat Indonesia pada waktu itu. Langkah cerdas dilakukan. Dengan melihat realitas prosentasi terbesar rakyat Indonesia berada di desa dengan sektor pertanian, para Pramuka menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di bidang pembangunan pertanian...

BLSM: Bantuan Langsung Semrawutkan Masyarakat

Kontroversial. Pembagian BLSM malah mengundang prahara. Di Jember, puluhan warga yang tergabung dalam Forum Ketua RT/RW Kelurahan Kaliwates mendatangi komisi D DPRD Jember. Mereka mengeluh karena dimusuhi warganya beberapa hari terakhir. Perangkat kelurahan paling bawah ini menjadi sasaran warga yang tidak kebagian BLSM. Menurut mereka

Euforia Spiritual Konsumerisme Ramadhan *)

Ramadhan dengan segala pernak-perniknya selalu dinanti-nanti. Ramah disambut dengan euforia membuncah. Ragam ibadah, sajian khas media massa, dan beragam suguhan pasar jadi ciri khas tersendiri. Baik kaum melarat maupun konglomerat bersuka cita memenuhi seruan Allah SWT untuk berpuasa. Menurut pandangan Quraish Shihab (1994), puasa tidak lepas dari upaya pengendalian diri yang menuntun manusia ‘keluar dari kebiasaan’, belenggu  penghambat kemajuan. Tetapi kontradikif. Setiap datangnya Ramadhan,

Ternyata Mahasiswa Bukan Intelektual! (Sebuah Peluru Otokritik)

K aum intelektual sering di identikkan dengan kalangan akademisi. Apalagi mahasiswa, prototipe ideal yang gerakannya dinanti-nanti sebagai sosok intelektual. Tetapi yang terjadi dewasa ini cenderung jauh dari harapan. Kebanyakan adalah sivitas akademik dengan teori-teori yang melangit. Komunitas yang bermukim di menara gading ilmu pengetahuan. Jauh dari realitas kemasyarakatan. Mahasiswa ternyata

Mengantitesis Pengaruh Perilaku Koruptif Patriarkhi Melalui Revitalisasi Semangat Kartini sebagai Manifestasi Muslimah Ulul Albab *)

Karena saya yakin sedalam-dalamnya bahwa wanita dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, tidak ada yang lebih saya inginkan daripada menjadi guru, agar supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dari para pejabat tinggi kita. O, saya ingin sekali menuntun anak-anak itu, membentuk wataknya, mengembangkan otaknya yang muda, membina mereka menjadi wanita-wanita dari hari depan, supaya dapat meneruskan segala yang baik itu ....   (Surat R.A. Kartini kepada Ny. N. Van Kol) Ekspektasi Kartini mengenai masa depan wanita Indosesia agaknya telah terealisasi. Pasalnya, kemerdekaan wanita dalam mengaktualisasikan dirinya di Bumi Nusantara telah terakomodir. Emansipasi wanita yang lantang diwacanakan terwadahi. Diskriminasi telah dihapuskan, hukum yang melindungi hak kewanitaan juga telah dipagar. Kesetaraan pendidikan hingga singgah sana jabatan pemerintahan juga sudah digenggam. Tetapi dengan segala apa yang telah disandang para wanita Indonesia tersebut, apakah sudah...

Dicari: Mujahid Pena Allah!

Allah! Tuhan yang tak disangkal sejarah. Raja di raja dengan kedigdayaan tanpa lini batas. Maha guru ulung yang mengajarkan manusia dengan qalam (Al-Alaq: 4). Rabb yang mengajarkan manusia yang notabene lemah dan miskin hikmah. Ilmu dan hikmah-Nya tak seorangpun yang kuat menginventarisasi. Ya, walaupun pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah (Q.S. Lukman: 27). Bila kita membicarakan tentang Allah dan qalam -Nya –yang disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an— setidaknya dapat dipahami dua interprestasi. Ya, yakni kedahsyatan pena

Mengubah Dunia dengan Media

  “Barang siapa menguasai media, dia akan menguasai dunia”, demikian bunyi salah satu pepatah modern. Telah banyak contoh dahsyatnya kekuatan media (pers) dalam mengantar perubahan dunia. Begitu besarnya pengaruh media dalam mengendarai wacana dan dukungan publik. Pihak-pihak tertentu di berbagai sektor kehidupan yang digandeng media cenderung memenangkan persaingan. Kemajuan suatu perusahaan dalam memasarkan produknya tak lepas dari

Semua Orang Berbakat Menulis

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.... (QS. Al-Alaq (96): 1-5)” Ayat diatas menyiratkan bahwa membaca dan menulis adalah suatu fitrah manusia. Membaca dan menulis adalah perantara pengajaran Allah atas manusia. Media bagi kita dalam menggali dan menginventarisasi ilmu Allah yang luas tersebar di dunia. Ya, sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis ilmu Allah, maka habislah lautan itu sebelum ilmu Allah habis ditulis, meskipun lautan itu ditambahkan lagi (QS. Al-Kahfi (18): 109).  Semua orang memiliki hasrat untuk meluapkan apa yang ia rasakan dan alami dalam hidupnya. Tapi sering kali kebanyakan orang lupa akan media yang pas untuk menumpahkan perasaannya. Pengalaman yang ia alami sering pula menguap dan terlupakan begitu saja. Padaha...

Kuliah atau Organisasi?

Ramai, gaduh, berisik. Celetukan melengking. Guyonan berseru-seru. Cekikikan bertalu-talu. Warga kelas tengah menikmati keterlambatan dosen. Saya rangkul satu untuk berbincang tenang. Kurangi satu kegaduhan. Saya angkat tema hangat mahasiswa baru.   “Gimana Sob, mau ikut organisasi apa?” “ Nggak dulu deh. Aku mau fokus kuliah dulu . Pfiuh .... Boro-boro ikut organisasi. Kuliah aja udah ribet banget .” Jawabnya. “Assalamu’alaikum,” salam dengan nada berat, pertanda dosen tiba. Seperti biasa, awal kuliah kami dihadiahi kuis berisi pertanyaan tentang materi yang hari ini akan dibahas. Eng ing eng ,

Transaksi Idealitas : Menakar Harapan Utopis Pelayan Publik

.......................................................................... Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata Dan kubenamkan topi baret di kepala Malu aku jadi orang Indonesia. Taufiq Ismail, Malu (aku) Jadi Orang Indonesia, 1998 Suatu kali, sedang nikmat-nikmatnya nyeruput kopi di warung kopi depan kampus, datang seorang senior fakultas pendidikan. Orang-orang menyebutnya aktivis idealis. Karena ia aktif berorganisasi, pribadinya jujuur dan lantang menyerukan keadilan. Dengan langkah juntai dan mimik muram dia menghampiri saya. “ Weleh weleh , zaman makin bejat. Semuanya jadi jahat. Barang mulia keluar mandat.” Cetusnya. “Wah

Perang Puputan Bayu: Potensi Sejarah Lokal Berbasis Karakter Bangsa

Karakter bangsa kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Pasalnya, karakter bangsa dinilai telah memudar pada sanubari generasi muda dewasa ini. Hal ini dapat dilihat dari maraknya aksi kekerasan dan asusila akhir-akhir ini, yang banyak diwayangi oleh generasi muda.  Upaya pemerintah untuk mengatasi fenomena ini diantaranya melahirkan K urikulum T ingkat S atuan P endidikan (KTSP) Berkarakter Bangsa di lembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah. Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai karakter bangsa terkesan ditransfer secara tekstual dan kurang maksimal, sehingga kurang mengena bagi para siswanya.